Langsung ke konten utama

Indika Foundation dan Ruber Innovation Lab hadirkan program GerakDampak Academy #1MYouthsStopBullying untuk membangun sekolah yang lebih aman dan inklusif.

 Indika Foundation dan Ruber Innovation Lab hadirkan program GerakDampak Academy #1MYouthsStopBullying untuk membangun sekolah yang lebih aman dan inklusif.

Jakarta, GNFI — Menurut hasil survei Ruber Innovation Lab bersama Forum OSIS Jawa Barat, sebanyak 30,6 persen siswa SMP–SMA di Jawa Barat pernah mengalami perundungan. Angka ini terlalu besar untuk diabaikan, mengingat dampak bullying yang serius dan berbahaya. Karena itu, dibutuhkan upaya nyata dan berkelanjutan untuk mencegah dan menekan praktik perundungan di lingkungan pendidikan.

Sebagai langkah konkret, Indika Foundation bersama Ruber Innovation Lab menghadirkan Mini Bootcamp GerakDampak Academy #1MYouthsStopBullying yang diikuti oleh 78 siswa SMA/SMK/MA se-Jabodetabek secara daring melalui Zoom Meeting. Program ini menjadi wadah bagi anak muda untuk mengasah kapasitas, membangun motivasi, dan mendapatkan kesempatan menjadi agen perubahan dalam mencegah bullying di lingkungan pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, program ini turut menghadirkan fasilitator yang berperan penting dalam perjalanan peserta. Fasilitator bukan hanya sebagai pendamping teknis, tetapi juga sebagai mentor dan teman belajar. Kehadiran fasilitator bertujuan menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, sehingga peserta dapat lebih leluasa menggali potensi diri sekaligus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.

Sebelum mendampingi peserta di Mini Bootcamp, 10 fasilitator mengikuti Training of Trainers (ToT) yang dilaksanakan secara luring di Ruber Innovation Lab, Jakarta Selatan, pada 7 September 2025. ToT ini merupakan bagian dari program GerakDampak Academy, yang hadir untuk mendampingi pemuda menciptakan gerakan anti-bullying di sekolah dan komunitas. Dalam sesi ini, fasilitator dibekali materi Good Global Citizen, teknik fasilitasi, Problem Tree Analysis, dan kurikulum HARMONI, sehingga mereka siap menjadi mentor muda yang membimbing peserta dan menanamkan kepemimpinan, empati, serta nilai perdamaian.

Bootcamp ini berlangsung selama dua hari pada 20-21 September 2025, menghadirkan rangkaian kegiatan yang interaktif dan aplikatif. Peserta diperkenalkan pada kurikulum HARMONI, yang menanamkan tujuh nilai: Hargai Keberagaman, Aksi Nyata, Regulasi Emosi, Membangun Compassion, Open-Minded, Ngenal Diri, dan Integritas. Nilai-nilai tersebut diintegrasikan dengan VUCA Leadership dan Buddy Pekerti Values, meliputi kepemimpinan diri (Lead Self), kepemimpinan kelompok (Lead Others), hingga kepemimpinan perubahan (Lead Change).

Selama bootcamp, peserta mengikuti berbagai sesi, termasuk penjelasan materi dari fasilitator, studi kasus, diskusi kelompok, simulasi interaktif, serta refleksi pribadi. Metode ini dirancang untuk memastikan peserta tidak hanya memahami konsep kepemimpinan dan anti-bullying secara teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam situasi nyata di sekolah atau komunitas mereka.

“Materinya sangat komprehensif dan relevan dengan kondisi saat ini. Penyampaiannya jelas, mudah dipahami, dan adanya ringkasan juga bikin proses belajarnya semakin gampang diikuti,” tutur Martasya Ayu Eka Putri Piolita, peserta asal SMAN 99 Jakarta, saat menceritakan pengalamannya di Mini Bootcamp.

Minhah Maliyatusyarifah, selaku Lead Facilitator, menyampaikan bahwa dengan menghadirkan agen perubahan muda di sekolah, pihaknya berharap setiap siswa dapat merasakan lingkungan belajar yang lebih aman, inklusif, dan penuh dukungan. Ia menambahkan bahwa program ini tidak hanya melatih siswa untuk menghentikan bullying, tetapi juga menanamkan kepemimpinan diri, keberanian, serta kemampuan bekerja sama dalam tim.

Dari Mini Bootcamp, 20 peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti Intensive Course pada 18-19 Oktober 2025 di Jakarta, sebelum mengimplementasikan aksi nyata anti-bullying di sekolah masing-masing. Mini Bootcamp ini menjadi langkah awal dari perjalanan panjang para peserta untuk menjadi duta anti-bullying di sekolah masing-masing, hingga menciptakan perubahan nyata di komunitas mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fasilitator #1M Youths Stop Bullying

Bangga rasanya bisa berkontribusi sebagai fasilitator dalam proyek #1M Youths Stop Bullying bersama Indika. Kesempatan ini bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan saya dalam fasilitasi, analisis masalah, dan pengembangan kapasitas anak muda. Setiap interaksi dan pengalaman di proyek ini memberikan pelajaran berharga yang tak ternilai. Sebelum benar-benar terjun ke kegiatan dengan anak-anak muda, kami mengikuti Training of Trainers (TOT) pada 7 September 2025 di Ruber Ilab, Jakarta Selatan. TOT ini menjadi momen penting untuk mendalami berbagai topik, mulai dari global citizenship, teknik analisis masalah dengan problem tree, hingga metode fasilitasi yang efektif. Para trainer berbagi pengalaman dan wawasan praktis yang sangat bermanfaat. Tidak hanya membekali kami dengan teori, tetapi juga memberikan contoh nyata bagaimana menciptakan ruang yang inklusif, aman, dan memberdayakan bagi peserta. Saya merasa terinspirasi oleh semangat pesert...

Penguatan Potensi Mahasiswa KIP Kuliah untuk Sukses Berkarya Meraih Masa Depan

  Penguatan Potensi Mahasiswa KIP Kuliah untuk Sukses Berkarya Meraih Masa Depan      Pada hari Minggu, 19 Oktober 2025, saya mengikuti kegiatan Pembinaan Mahasiswa Tingkat Akhir KIP Kuliah dengan tema “Penguatan Potensi Mahasiswa KIP Kuliah untuk Sukses Berkarya Meraih Masa Depan” . Kegiatan ini diadakan di Hotel Bigland Bogor dan dihadiri oleh mahasiswa sebanyak 200 orang yang berasal dari 14 kampus di Jakarta, Bogor, dan Depok. Sejak pagi, suasana sudah terasa hangat dan penuh antusiasme. Para peserta tampak bersemangat, berbagi cerita perjuangan kuliah, dan siap menyerap setiap materi yang disampaikan oleh para alumni inspiratif.      Acara dimulai pukul 09.00 dengan sambutan hangat dari panitia, dilanjutkan dengan sesi sharing dari alumni KIP Kuliah yang telah sukses di berbagai bidang. Beberapa dari mereka menjadi dosen, profesional di perusahaan ternama, atau penerima beasiswa LPDP. Mereka menceritakan perjalanan hidupnya, tantangan yang dihad...